Friday, April 19, 2013

penyakit asam lambung?

Q. Ada yang bisa menjawab, tentang penyakit asam lambung yang saya derita bertahun-tahun namun tak sembuh juga. Saya sudah capek menghadapi penyakit ini. Makan salah apalagi tidak makan...cape deh..tolong yang punya informasi ttg obatnya...thx ya..

A. saya pikir mungkin anda cuma menderita sakit maag biasa (sindrom dispepsia) atau mungkin juga lebih berat lagi dari sekedar sindrom dispepsia, seperti tukak lambung (ulkus gaster), gastritis (akibat obat, makanan, kopi, dll), atau sindrom asam lambung berlebih (zollinger ellison syndrome), atau refluks esofagitis (isi asam lambung naik sampai kerongkongan).

oleh karena itu menurut saya anda perlu berkonsultasi dengan seorang internis (ahli penyakit dalam), mungkin beliau dapat memberikan beberapa macam solusi untuk anda.

untuk obat, selain obat maag biasa (macam promag, milanta) yang isinya basa, ada juga obat penghambat histamin 2 (AH2 antihistamine-2), dan penghambat pompa proton (PPI proton pump inhibitor). tapi untuk obat2 seperti AH2 dan PPI tidak saya anjurkan membeli bebas, karena efek sampingnya juga lebih berat dari sekedar obat maag biasa.

SAYA MENGIDAP ASAM LAMBUNG?
Q. Betulkah pnyakit ASAM LAMBUNG dapat membuat perasaan mnjadi gelisah, jntung berdebar2.
Dan dapat membuat stress.

A. terbalikâ¦â¦â¦â¦

Stress, perasaan gelisah dan makan tdk teratur yg membuat asam lambung meningkatâ¦â¦â¦

dan akhirnya u akan mengalami maag, ataw gastritisâ¦â¦â¦

jika gastritis parah, akan terjadi nyeri hebat d'perut, muntah2, bahkn kelumpuhan sementara

asam lambung langsung tinggi setelah makan siang?
Q. kira- kira penyebab asam lambung langsung meningkat dagi segi apa ya?ada yg bisa info?
Menu : Lontong balap (lontong, tahu, lentho, sayur kecambah, dg sedikit kecap dan petis), sate kerang, minum teh tawar

A. Peningkatan asam lambung yang berlebihan dalam
dunia kedokteran sering disebut dengan hiperasiditas. Peningkatan asam lambung ini dapat menyebabkan dispepsia (berkurangnya daya atau fungsi pencernaan; nyeri lambung)(Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008) atau yang sering dikenal dengan sakit maag. Dispepsia atau sakit maag adalah gangguan yang terjadi pada saluran cerna bagian atas. Asam lambung yang berlebih akan mengaktifkan rangsang nyeri sehingga biasanya penderita mengeluhkan kembung, nyeri di ulu hati,
mual, dll yang merupakan gejala dari sakit maag. Peningkatan asam lambung yang berlebih dapat mengenai baik pria maupun wanita. Beberapa penyebab meningkatnya asam lambung : 1. ketidakteraturan waktu makan 2. stres fisik (misal pada pembedahan, penyakit berat, luka bakar) maupun mental 3. merokok 4. kopi 5. alkohol 6. obat â obatan tertentu, dll. Berdasarkan dari penyebab meningkatnya asam lambung, maka menghindari faktor penyebab merupakan pencegahan yang terbaik. Namun demikian bila sudah mengalami peningkatan asam lambung maka beberapa obat yang dapat dipakai untuk menekan asam lambung atau menetralkan asam lambung adalah sebagai berikut : 1. antagonis H2 reseptor (contoh : simetidin, ranitidine, famotidin) Obat â obat ini bekerja dengan menghambat pengeluaran (sekresi) asam lambung. Obat ini dapat melewati tali pusat dan ASI 2. antasida (magnesium hidroksida/aluminium hidroksida) antasida adalah obat yang menetralkan asam lambung. Antasida tidak mengurangi jumlah asam lambung yang keluar. Antasida lebih aman digunakan untuk wanita hamil dan menyusui 3. penghambat pompa proton (contoh : omeprazole, pantoprazole, lansoprazole) penghambat pompa proton merupakan penghambat sekresi asam lambung lebih kuat dibandingkan dengan antagonis H2 reseptor. Penghambatan berlangsung lama antara 24 â 48 jam dan produksi asam baru kembali 3 â 4 hari setelah pengobatan dihentikan. 4. misoprostol misoprostol selain berfungsi untuk menghambat pengeluaran asam lambung, misoprostol juga berfungsi untuk mencegah terjadinya tukak saluran cerna yang disebabkan oleh obat â obat pereda nyeri. Misoprostol tidak boleh diberikan pada wanita hamil. Selain penggunaan obat â obat di atas, menjaga pola makan yang sehat dan istirahat yang cukup juga diperlukan. Karena dengan menjaga pola hidup sehat, kemungkinan untuk terjadi kekambuhan menurun.

kadar asam lambung normal ?
Q. Ph kadar asam lambung normal

A. pH lambung harus dipertahankan minimal di atas 3, bahkan untuk penyakit tertentu seperti esofagitis refluks, pH dipertahankan di atas 4. Pada pH di atas 3 secara fisiologi aktivitas pepsin sangat menurun, sedang pada pH di atas 4 aktivitas pepsin hampir tidak ada.

Bagaimana gejala asam lambung, apakah suka pusing, sendawa. perut bunyi?
Q. Kata dokter saya kena asam lambung, gejalanya saya suka pusing,lemas, sering tahak, perut suka berbunyi. apa ini namanya asam lambung, makanan apa yg boleh saya makan. bagaimana pengobatannya, kalau saya perlu ke dokter. mohon pencerahan. thks

A. Mengatasi Banjirnya Asam Lambung

GAYA hidup dan pola makan kembali terbukti memengaruhi kesehatan. Kehidupan dengan stres tinggi dan makan makanan berlemak diyakini sebagai pemicu penyakit refluks gastroesofageal (GERD).

Penyakit dengan gejala rasa nyeri dan panas di dada dan asam lambung naik ke kerongkongan ini jika dibiarkan berlarut-larut bisa menimbulkan gangguan suara serak, batuk kronis, sesak napas, bahkan kanker kerongkongan. Gangguan ini bisa diatasi dengan obat- obatan yang tersedia pasaran. Jenis dan dosisnya dibakukan dalam Konsensus Nasional Penatalaksanaan Penyakit Refluks Gastroesofageal yang disusun Kelompok Studi GERD Indonesia.

Penyakit refluks gastroesofageal menurut definisi dalam konsensus nasional adalah kelainan yang menyebabkan cairan lambung mengalami refluks (mengalir balik) ke kerongkongan dan menimbulkan gejala khas berupa rasa terbakar di dada, kadang-kadang disertai rasa nyeri serta gejala lain seperti rasa asam dan pahit di lidah, nyeri ulu hati, perut kembung, sering bersendawa, serta kesulitan menelan.

Menurut dr Ari Fahrial Syam SpPD MMB dari Divisi Gastroenterologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI/RSCM) pada jumpa pers simposium penatalaksanaan terkini penyakit dalam, Sabtu (4/12), semula gangguan ini dikelompokkan sebagai gangguan pada lambung. Namun dalam perkembangannya, GERD menjadi penyakit tersendiri, yaitu gangguan pada kerongkongan dengan kriteria, pemeriksaan, dan pengobatan tersendiri.

"Makanan berlemak seperti keju atau cokelat serta faktor stres menyebabkan produksi asam dan gas berlebihan dalam lambung. Makanan berlemak juga memperlemah klep kerongkongan. Akibatnya asam dan gas naik ke kerongkongan. Hal ini akan menimbulkan luka di kerongkongan," paparnya.

Kalau terus berlangsung, hal ini akan mengganggu organ lain seperti gangguan pita suara, gatal di tenggorokan, asam yang ke paru akan menimbulkan gejala sesak napas seperti asma. Pada kerongkongan akan terjadi penyempitan, radang dan perubahan dinding kerongkongan, mula-mula berupa polip dan bisa berkembang menjadi kanker.

PREVALENSI GERD dan komplikasinya di Asia termasuk rendah dibandingkan dengan negara-negara Barat. Prevalensi di Barat berkisar 10-20 persen, sedangkan di Asia 3-5 persen, dengan pengecualian di Jepang 13-15 persen dan Taiwan 15 persen.

Penelitian tahun 1998 di FKUI/RSCM pada pasien dengan gejala dispepsia yang mendapat pemeriksaan endoskopi ditemukan kasus GERD berupa radang kerongkongan sebanyak 22,8 persen. Penelitian lain di FKUI/RSCM melaporkan dari 1.718 pasien yang menjalani pemeriksaan dengan teropong saluran cerna bagian atas dengan indikasi dispepsia selama lima tahun (1997-2002) menunjukkan peningkatan prevalensi radang kerongkongan dari 5,7 persen pada tahun 1997 menjadi 25,18 persen pada tahun 2002.

Gejala GERD sering tumpang tindih dengan gejala dispepsia (gangguan pencernaan akibat tingginya asam lambung). Sering juga disangka gangguan jantung karena penderita merasa nyeri, sesak, dan panas di bagian dada sehingga ada pelbagai pemeriksaan untuk mencari kelainan pada jantung.

OBAT golongan antasida memang bisa menghilangkan gejala, tetapi tidak menghentikan proses yang terjadi. Karenanya, demikian Ari, diperlukan obat antiasam yang lebih kuat berupa penghambat pompa proton (proton pump inhibitor/PPI) seperti omeprazol, esomeprazol, pantoprazol, lansoprazol.

Obat ini bekerja dengan cara menghambat pompa proton pada dinding sel parietal-yaitu sel yang memproduksi asam- sehingga terjadi penurunan produksi dan pengeluaran asam lambung. "Keasaman lambung dipertahankan pada pH 4-6 untuk memberi kesempatan tubuh memperbaiki kerusakan yang terjadi," jelasnya.

Sebenarnya asam berfungsi membantu pencernaan dan membunuh kuman. Namun, produksi asam yang berlebihan akan merusak dinding lambung dan kerongkongan seperti pada kasus GERD. Upaya menurunkan tingkat keasaman sampai pH 4-6 sejauh ini tidak membahayakan kesehatan.

Dalam konsensus nasional disebutkan, jika pasien yang mendapat PPI dosis ganda selama satu minggu kondisinya membaik, pengobatan harus diteruskan sampai delapan minggu agar sembuh total.

Untuk radang kerongkongan sedang dan berat perlu dilanjutkan dengan terapi pemeliharaan sesuai dengan kebutuhan (bisa sampai enam bulan).

Menurut Ari, konsensus nasional didasarkan pada konsensus yang disusun pelbagai pusat penelitian di dunia, studi kasus di Indonesia, dan pengalaman empiris para pakar/praktisi medis yang menyusun konsensus ini. Konsensus diharapkan menjadi pedoman para dokter dalam penatalaksanaan GERD sehingga tercapai hasil pengobatan yang optimal.

Namun, pengobatan tak akan banyak berarti jika gaya hidup dan pola makan tak diubah. Karena kedua hal itu yang sebenarnya menjadi kunci kesehatan kita. (ATK)




Powered by Yahoo! Answers

No comments:

Post a Comment

Post a Comment