Saturday, January 18, 2014

luka lama.......................?

Q. .
LUKA LAMA

Aku duduk di atas bangku tua
bangku malas sisi penjajah
telunjuk ku ini senang mengorek-ngorek
sisa luka bekas tertembak
kian lama, kian dalam dan menjalar
tetap saja aku korek sisa busuk itu
sepertinya tak mudah habis, tak mudah sembuh
apakah, aku harus membakar diri ini
hingga luka-luka itu mati ?

------------aki/10/01/10

A. Tepian Luka

luka-luka lama, tanpa sengaja
sisakan muara, yang disana mengalir sejuta lara
dan benamkan ribuan peristiwa

Luka-luka lama, tiada sengaja
tinggalkan mutiara
meski cuma cerita

apakah ada luka yang tak bisa disembuhkan di dunia ini?
Q. luka seperti apa itu?
@hinata dan @soeharso, gangren diabetes masih ada harapan sembuh dengan Bioceramics, kemajuan teknologi pengobatan sudah sampai ke sana

A. mungkin,secara abstraknya,luka hati,dendam yg tak sempat tercairkan dengan keinsafan

bagaimana menentukan besarnya luka bakar yang dialami oleh korban?
Q. luka bakar seorang korban

A. Secara klinis, luka bakar dinilai menurut persentasi dari luas permukaan tubuh yang terpajang dan kedalaman luka. Cara untuk menilai derajat luka bakar menurut persentasi luas permukaan tubuh yang terpajang pada orang dewasa dan anak-anak adalah dengan ârules of ninesâ.

Mengapa Lukas disebut Penginjil?
Q. Lukas atau kadang kala juga disebut Lukas sang Penginjil

A. Lukas berdarah Yunani, lahir di kota Antiokhia. Dalam Agama Katolik, ia dihormati sebagai santo pelindung para dokter dan ahli bedah, serta hari perayaannya ditetapkan tanggal 18 Oktober.

Catatan pertamanya ada di dalam Surat Rasul Paulus kepada Filemon, bab 24. Ia juga disebutkan di Kolose 4:14 dan 2 Timotius 4:11, dua surat yang umumnya dipercaya ditulis oleh Santo Paulus. Catatan awal mengenai Santo Lukas juga ada di dalam dokumen Kata Pengantar Anti-Marsion Injil Lukas, sebuah dokumen yang pernah diperkirakan berasal dari abad ke-2 M, yang pada akhir-akhir ini dinyatakan berasal dari abad ke-4 M. Namun demikian, Helmut Koester menyatakan bahwa bagian berikut ini -- satu-satunya bagian yang tersimpan dalam Bahasa Yunani aslinya -- kemungkinan memang sudah dibuat pada akhir abad ke-2 M:

"Lukas, berasal dari Antiokhia dan berprofesi sebagai seorang dokter. Ia menjadi seorang murid dari para rasul dan kemudian mengikuti Paulus hingga kemartirannya. Setelah melayani Tuhan secara terus-menerus, hidup selibat dan tanpa anak, serta dipenuhi dengan Roh Kudus, ia wafat di usia 84 tahun. (halaman 335)"

Tentang Lukas.....?
Q. â¢Kejujuran Lukas sebagai sejarawan tidak diragukan. Unger memberitahukan kepada kita bahwa arkelologi telah membuktikan kebenaran kisah-kisah yang dituturkan dalam Injil, terutama Injil Lukas. Dalam kata-kata Unger, âKisah Para Rasul saat ini secara umum disetujui di kalangan sarjana sebagai karya Lukas, berasal dari abad pertama dan melibatkan pekerjaan seorang ahli sejarah yang cermat yang terutama sangat tepat dalam menggunakan sumber-sumber informasi.â Sir William Ramsay dipandang sebagai salah seorang arkeolog terbesar yang pernah hidup. Ia pernah menjadi murid di Jerman di suatu sekolah yang khusus mempelajari sejarah pada pertengahan abad ke-19. Akibatnya, ia percaya bahwa Kitab Kisah Para Rasul adalah karya yang dihasilkan pada pertengahan abad kedua tarikh Masehi. Ia benar-benar yakin akan apa yang dipercayainya itu. Ketika melakukan penelitian dalam rangka mengadakan studi topografis wilayah Asia Kecil ia terdorong untuk mempelajari dengan teliti karya tulis Lukas. Akibatnya, ia terpaksa mengambil sikap yang bertentangan seratus delapan puluh derajat dengan keyakinan yang dimilikinya selama itu karena temuan-temuan yang demikian melimpah yang digalinya melalui penelitiannya itu. Ia berbicara tentang hal ini ketika ia berkata: âSaya dapat dengan jujur menyatakan bahwa saya telah memulai penyelidikan ini tanpa berprasangka demi kesimpulan yang kini kebenarannya saya usahakan untuk saya buktikan kepada para pembaca. Sebaliknya, saya mulai dengan pikiran yang tidak mendukung hal itu, karena tingginya rekaan dan teori Tubingen yang nampak demikian sempurna pada suatu saat telah meyakinkan saya. Saat itu saya tidak berminat untuk meneliti masalah topografis itu secermat mungkin, namun akhir-akhir ini saya sadari bahwa saya telah terbawa ke dalam suatu hubungan dengan Kitab Kisah Para Rasul sebagai sumber informasi yang berwewenang tentang topografi,benda-benda kuno dan masyarakat Asia Kecil. Lama kelamaan saya memiliki pendapat bahwa dalam pelbagai hal kecil, ceritera di dalamnya menunjukkan kebenaran yang menakjubkan. Sesungguhnya, mulai dengan gagasan yang pasti bahwa karya tulis itu pada dasarnya adalah komposisi yang dibuat pada abad kedua, dan tidak pernah bersandar pada bukti yang dimilikinya sebagai dasar yang terpercaya karena keadaan-keadaan abad pertama, lambat laun saya temukan bahwa kitab tersebut adalah sekutu yang berguna dalam usaha-usaha penyelidikan yang gelap dan sulit.â (Dikutip dari buku karya Ramsay berjudul: St. Paul the Traveler and the Roman Citizen [Santo Paulus Pengelana dan Warga Negara Roma]).

Tentang kemampuan Lukas sebagai sejarawan, Ramsay sesudah mengadakan penelitian selama 30 tahun menyimpulkan bahwa âLukas adalah seorang sejarawan dari jenjang pertama; pernyataan-pernyataannya tentang fakta tidak hanya dapat dipercaya . . . pengarang ini harus ditempatkan pada jajaran yang sama dengan sejarawan-sejarawan terbesar.â

Ramsay menambahkan: âSejarah Lukas tidak tertandingi dalam hubungan dengan kejujuran sejarah itu.â

Apa yang telah dilakukan oleh Ramsay dengan meyakinkan dan final adalah membuang kemungkinan-kemungkinan tertentu. Sebagaimana terlihat berdasarkan bukti arkeologis, Perjanjian Baru mencerminkan keadaan pada paruh kedua abad pertama Masehi, dan tidak mencerminkan keadaan abad-abad sesudahnya. Secara historis hal ini sangat penting dan seharusnya telah dikokohkan secara efektif. Dalam segala hal yang berhubungan dengan fakta eksternal, penulis Kisah Para Rasul itu dipandang sebagai orang yang sangat teliti dan tepat, suatu hal yang dapat dilakukan hanya oleh orang yang hidup sezaman dengan hal-hal yang ditulisnya itu.

Pada suatu saat disetujui bahwa Lukas sungguh-sungguh ketinggalan kereta dalam hubungan dengan hal-hal yang dilukiskannya sebagai peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar kelahiran Yesus (Lukas 2:1-3). Para pengritik memberikan alasan bahwa tidak ada kegiatan cacah jiwa, bahwa Quirinus bukanlah gubernur Suriah pada saat itu dan bahwa tiap orang tidak diwajibkan kembali ke tempat asal leluhurnya.

Pertama-tama, temuan-temuan arkeologis menunjukkan bahwa orang-orang Romawi mempunyai kebiasaan mengadakan pendaftaran ulang secara teratur para wajib pajak dan juga mengadakan cacah jiwa 14 tahun sekali. Prosedur ini sungguh-sungguh dimulai di bawah Agustus dan yang pertama kali dilaksanakan jika bukan tahun 23-22 S.M. tahun 9-8 S.M. Tahun yang kedua itu tentulah tahun yang dimaksudkan oleh Lukas.

Kedua, kita mendapatkan bukti bahwa Quirinus adalah gubernur di Suriah pada sekitar tahun 7 S.M. Anggapan ini didasarkan pada prasasti yang ditemukan di Antiokhia yang menyebutkan bahwa Quirinus memegang jabatan ini. Sebagai akibat temuan ini, sekarang dianggap bahwa ia menjadi gubernur dua kali â pertama pada tahun 7 S.M. dan kesempatan yang lain adalah pada tahun 6 M. (tahun ini disebutkan oleh Josephus).

Terakhir, dalam hubungan dengan kebiasaan melakukan pendaftaran, papirus yang ditemukan di Mesir memuat petunjuk-petunjuk pelaksanaan suatu cacah jiwa.

Tulisan pada papirus itu berbunyi sebagai berikut: âBerhubung dengan cacah jiwa yang sudah dekat, maka orang-orang yang karena alasan apa saja terpaksa tinggal jauh dari tempat asal mereka perlu segera mempersiapkan diri untuk pulang ke kawasan pemerintah asal mereka agar mereka dapat melengkapi pendaftaran keluarga mereka dan bahwa tanah yang digarap dapat memberikan hasilnya kepada pemiliknya.â

Pada awalnya para arkeolog percaya bahwa pengertian Lukas salah bahwa Listra dan Derbe ada di Likaonia dan Ikonium tidak (Kisah Para Rasul 14:6). Mereka mendasarkan keyakinan mereka pada tulisan-tulisan orang-orang Roma seperti Cicero yang menunjukkan bahwa Ikonium ada di kawasan Likaonia. Jadi, para arkeolog mengatakan Kitab Kisah Para Rasul tidak dapat dipercaya. Tetapi, pada tahun 1910, Sir William Ramsay menemukan suatu monumen yang menunjukkan bahwa Ikonium adalah kota di kawasan Frigia. Temuan-temuan sesudah itu memberikan dukungan atas hal ini.

Di antara referensi historis lain yang ditulis Lukas adalah tentang Lisanias raja wilayah Abilene (Lukas 3:1) pada awal pelayanan Yohanes Pembaptis pada tahun 27 M.Satu-satunya Lisanias yang dikenal para ahli sejarah adalah orang yang dibunuh pada tahun 36 S.M. Tetapi, prasasti yang ditemukan di dekat Damaskus berbicara tentang âOrang yang dibebaskan Lisanias Sang Rajaâ pada tahun antara 14 dan 29 M.

Dalam Surat Kiriman kepada Orang-orang Romawi yang ditulis di Korintus ini, Paulus menyebutkan istilah bendaharawan kota, Erastus (Roma 16:23). Pada saat dilakukan penggalian di kota Korintus pada tahun 1929, ditemukan suatu peninggalan kaki lima dengan tulisan: ERASTVS PRO:AED:S:P:STRAVIT (âErastus, pemelihara gedung-gedung umum, membuat kaki lima ini atas biaya sendiriâ). Menurut Bruce, sangat mungkin kaki lima itu ada pada abad pertama M. dan donatur serta orang yang disebut Paulus mungkin adalah satu orang yang sama.

Juga suatu prasasti yang tidak lengkap yang dipercaya mengandung kata-kata âSunagoge Orang Ibraniâ ditemukan di Korintus. Dapat dibayangkan bahwa prasasti itu berdiri di atas pintu masuk sunagoge yang diperdebatkan Paulus dalam Kisah Para Rasul 18:4-7. Prasasti Korintus lainnya menyebutkan âpasar dagingâ kota yang dimaksudkan Paulus dalam I Korintus 10:25.

Jadi, berkat temuan-temuan arkeologis yang demikian banyak, sebagian besar kota kuno yang disebutkan dalam Kitab Kisah Para Rasul telah dapat diidentifikasi. Perjalanan Paulus sekarang dapat secara tepat ditelusuri sebagai akibat dari temuan-temuan ini.

Lukas menulis tentang keributan di Efesus dan menuturkan tentang persidangan masyarakat (Ecclesia) yang diselenggarakan di gedung teater (Kisah Para Rasul 19:23 dst.). Fakta-faktanya adalah bahwa persidangan itu sungguh-sungguh dilaksanakan di sana menurut apa yang tertera dalam prasasti yang berbicara tentang patung-patung perak Artemis (Diana dalam King James Version) yang harus ditempatkan di dalam âgedung teater selama persidangan penuh Ecclesia.â Gedung teater itu, ketika digali, terbukti memiliki ruangan yang dapat menampung 25,000 orang.

Lukas juga menyampaikan bahwa ada keributan yang terjadi di Yerusalem karena Paulus membawa seorang kafir (yang dimaksud: bukan Yahudi) memasuki Bait Allah (Kisah Para Rasul 21:28). Telah ditemukan prasasti-prasasti, dalam bahasa Yunani dan Latin, yang berbunyi, âTidak ada seorang asingpun yang boleh masuk melewati batas yang mengelilingi Bait Allah dan tanah sekelilingnya yang sudah dipagari. Barangsiapa tertangkap basah ketika melakukan pelanggaran terhadap hal itu akan bertanggung jawab secara pribadi atas hukuman mati yang akan dialaminya.â Terbukti lagi bahwa Lukas benar!

Pemakaian kata-kata tertentu oleh Lukas juga diragukan. Lukas menyebutkan bahwa Filipi adalah âbagianâ atau âdistrikâ Makedonia. Dia menggunakan kata Yunani meris yang diterjemahkan âbagianâ atau âdistrik.â F. J. A. Hort percaya Lukas salah dalam hubungan dengan pemakaian kata ini. Dia berkata bahwa meris menunjuk kepada pengertian suatu âporsiâ (bagian untuk tujuan khusus) bukan suatu âdistrik,â jadi, inilah yang dijadikan dasar perbedaan pendapatnya itu. Tetapi, penggalian-penggalian arkeologis telah menunjukkan bahwa istilah meris ini dipakai untuk menggambarkan bagian-bagian distrik tersebut. Dengan demikian, lagi-lagi arkeologi telah menunjukkan ketepatan Lukas.

Pemakaian kata-kata lain yang dinilai tidak bagus biasanya dikaitkan dengan Lukas. Secara teknis ia dinyatakan salah ketika menggunakan kata praetor dengan pengertian penguasa-penguasa Filipi. Menurut âpara sarjanaâ itu, suatu kota diperintah oleh dua orang duumuir. Tetapi, sebagaimana biasanya, Lukas terbukti tetap benar. Temuan-temuan telah menunjukkan bahwa gelar praetor dikenakan pada hakim-hakim di suatu jajahan Romawi.

Pemilihan kata proconsul (gubernur dalam Alkitab TB) sebagai gelar Gallio (Kisah Para Rasul 18:12) adalah pemakaian yang benar sebagaimana dibuktikan oleh prasasti Delphi yang bagiannya berbunyi: âKetika Lucius Junius Gallio, sahabatku, dan Proconsul Akhaya . . .â

Prasasti Delphi (52 M.) memberikan kepada kita kurun waktu yang pasti untuk menetapkan pelayanan Paulus selama satu setengah tahun di Korintus. Kita mengetahui hal ini melalui fakta, dari sumber-sumber lain, bahwa Gallio menjabat tugas tersebut dari tanggal 1 Juli dan bahwa jabatan proconsul itu hanya bertahan selama satu tahun dan bahwa masa satu tahun itu bersamaan dengan masa kerja Paulus di Korintus.

Lukas memberikan kepada Publius, orang besar di Malta, gelar âgubernur pulau ituâ (first man of the island, â [?]; âthe leading man of the islandâ â NASB; âthe chief man of the islandâ â KJV; âthe chief official of the islandâ â NIV) (Kisah Para Rasul 28:7). Pelbagai prasasti yang telah digali sungguh-sungguh memberikan gelar âorang pertamaâ (first man) itu kepadanya.

Masih ada satu masalah lagi yakni pemakaian kata politarch (pembesar-pembesar kota â Alkitab TB) oleh Lukas untuk menyebut penguasa sipil di Tesalonika (Kisah Para Rasul 17:6). Karena politarch tidak ditemukan dalam sastera klasik, maka lagi-lagi Lukas dianggap salah. Tetapi, sebanyak 19 prasasti yang menggunakan gelar tersebut telah ditemukan. Yang cukup menarik ialah bahwa lima di antaranya berhubungan dengan Tesalonika.

Pada tahun 1945, dua buah ossuary (tempat penyimpanan tulang orang mati) ditemukan di sekitar Yerusalem. Kedua ossuary ini menunjukkan adanya graffiti (tulisan kuno pada dinding, sisi jalan, dsb.) yang menurut penemunya, bernama Eleazar L. Sukenik, dinyatakan sebagai âdokumen-dokumen tertua tentang Kekristenan.â Tempat-tempat penyimpanan tulang orang mati ini ditemukan di sebuah kuburan yang dipakai sebelum tahun 50 M. Graffiti itu berbunyi lesous iou dan lesous aloth. Ada juga di situ empat buah salib. Nampaknya yang pertama adalah doa yang ditujukan kepada Yesus untuk mendapat pertolongan dan yang kedua, doa untuk kebangkitan orang yang tulang-tulangnya tersimpan dalam ossuary itu.

Sungguh tidak mengherankan bahwa E. M. Blaiklock, dosen di Universitas Auckland yang mengajarkan Masalah-masalah Klasik, menyimpulkan bahwa âLukas adalah ahli sejarah yang memiliki ketrampilan sempurna, berdasarkan haknya sendiri patut disejajarkan dengan penulis-penulis agung Yunani.

â¢Kaki lima. Selama berabad-abad tidak ada dokumen tentang gedung pengadilan tempat Yesus disidang oleh Pilatus (diberi nama Gabbatha atau Litostrotos [Kaki Lima], Yohanes 19:13).

William F. Albright dalam bukunya berjudul The Archeology of Palestine (Arkheologi Palestina) menunjukkan bahwa tempat untuk mengadili itu adalah bagian dari Menara Antonia yang berfungsi sebagai markas besar tentera Romawi di Yerusalem. Tempat itu dibiarkan tertimbun tanah ketika kota Yerusalem dibangun kembali pada masa Hadrian dan tidak ditemukan sampai akhir-akhir ini.

â¢Kolam Bethesda, adalah tempat lain yang tidak memiliki dokumen selain yang ada dalam Perjanjian Baru, kini dapat diidentifikasi âdengan kepastian yang sangat meyakinkan di wilayah perempat timur laut kota tua (wilayah yang diberi nama Bezetha, atau âPadang Rumput Baruâ) abad pertama Masehi, tempat bekas kolam itu ditemukan ketika diadakan penggalian yang dilakukan di dekat Gereja St. Anne pada tahun 1888.â

A. Sangat mungkin Lukas adalah ahli sejarah yang sempurna
tetapi tidak berarti
kita harus mengecilkan arti alkitab
yaitu alkitab sebagai kumpulan sejarah

dan hal itu justru akan membuat
kita keliru memandang Tuhan

salam hangat




Powered by Yahoo! Answers

No comments:

Post a Comment